Minggu, 05 Juni 2011

laporan Titrasi asam basa


LAPORAN AKHIR
PRAKTIKUM KIMIA DASAR I


JUDUL PERCOBAAN           : TITRASI ASAM BASA
JURUSAN/ PRODI/ KLS       : FISIKA / S1 PEND FISIKA /A
KELOMPOK                           : VI ( ENAM)
REKAN KERJA                      :
1.    ABU BAKAR
2.    DESI FITRIANI
3.    DEWI SINTA ISMAIL
4.    DIANA LADIKU
5.    FARID PRASETIAWAN


LABORATORIUM KIMIA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN IPA
UNIVERSITAS NEGERI GORONTALO
2011


MODUL  III
                                                                                                                 

A.    JUDUL          :  TITRASI  ASAM  BASA
B.     TUJUAN       :
Melakukan titrasi asam basa untuk menentukan konsentrasi suatu larutan asam.
C.    DASAR TEORI
Titrasi merupakan salah satu cara untuk menentukan konsentrasi larutan suatu zat dengan cara mereaksikan larutan tersebut dengan zat lain yang diketahui konsentrasinya. Prinsip dasar titrasi asam basa didasarkan pada reaksi nertalisasi asam basa.
Titik ekivalen pada titrasi asam basa adalah pada saat dimana sejumlah asam tepat di netralkan oleh sejumlah basa. Selama titrasi berlangsung terjadi perubahan pH. pH pada titik equivalen ditentukan oleh sejumlah garam yang dihasilkan dari netralisaasi asam basa. Indikator yang digunakan pada titrasi asam basa adalah yang memiliki rentang pH dimana titik equivalen berada. Pada umumnya titik equivalen tersebut sulit untuk diamati, yang mudah dimatai adalah titik akhir yaang dapat terjadi sebelum atau sesudah titik equivalen tercapai. Titrasi harus dihentikan pada saat titik akhir titrasi tercapai, yang ditandai dengan perubahan warna indikator. Titik akhir titrasi tidak selalu berimpit dengan titik equivalen. Dengan pemilihan indikator yang tepat, kita dapat memperkecil kesalahan titrasi.
Pada titrasi asam kuat dan basa kuat, asam lemah dan basa lemah dalam air akan terurau dengan sempurna. Oleh karena itu ion hidrogen dan ion hidroksida selama titrasi dapat langsung dihitung dari jumlah asam atau basa yang ditambahkan. Pada titik equivalen dari titrasi asam air, yaitu sama dengan 7.
Secara umum, asam memiliki sifat sebagai berikut:
1.      Rasa: masam ketika dilarutkan dalam air.
2.      Sentuhan: asam terasa menyengat bila disentuh, terutama bila asamnya asam kuat.
3.      Kereaktifan: asam bereaksi hebat dengan kebanyakan logam, yaitu korosif terhadap logam.
4.      Hantaran listrik: asam, walaupun tidak selalu ionik, merupakan elektrolit.
5.      mengubah lakmus biru menjadi merah

Sifat-sifat Basa :
1.      Kaustik
2.      Rasanya pahit
3.      Licin seperti sabun
4.      Nilai pH lebih dari sabun (>7)
5.      Mengubah warna lakmus merah menjadi biru
6.      Dapat menghantarkan arus listrik

Titrasi Asam Kuat - Basa Kuat
Contoh :
Asam kuat : HCl
Basa kuat   : NaOH
Persamaan Reaksi :
HCl + NaOH   →   NaCl + H2O
Reaksi ionnya :
H+ + OH-   →   H2O
Kurva Titrasi Asam Kuat Basa Kuat








            Titrasi asam basa merupakan contoh analisis glumetri, yaitu suatu cara atau  metode yang menggunakan larutan yang disebut titran dan dilepaskan dari perangkat gelas yang disebut buret. Titik dalam titrasi dimana titran yang telah ditambahkan cukup untuk bereaksi secara tepat dengan senyawa yang ditentukan disebut titik ekivalen atau titik stoikhiometri, titik ini sering ditandai dengan perubahan warna senyawa yang disebut indikator.
           
Berikut ini syarat-syarat yang diperlukan agar titrasi yang dilakukan berhasil :
1.      Konsentrasi titrasi harus diketahui. Larutan seperrti ini disebut larutan standar.
2.      Reaksi yang tepat antara titran dan senyawa yang dianalisis harus diketahui.
3.      Titik stoikhiomtri atau titik ekivalen harus diketahui. Indikator yang memberiakan perubahan warna, atau sangat dekat pada titik ekivalen yang sering digunakan. Titik pada saat indikator berubah warna disebut titik akhir.
4.      Volume titran yang dibutuhkan untuk mencapai titik ekivalen harus diketahui setepat mungkin.
Proses titrasi asam basa sering dipantau dengan penggambaran pH larutan yang dianalisis sebagai fungsi jumlah titran yang ditambahkan. Gambar yang diperoleh tersebut disebut kurva pH atau kurva titrasi. Dalam titrasi, suatu larutan yang harus dinetralkan, misalnya asam dimasukkan kedalam buret lalu dimasukan kedalam asam, mula-mula cepat, kemudian tetes demi tetes, sampai titik setara dari titrasi tersebut terrcapai. Salah satu cara untuk mencapai titik setara adalah melalui perubahan warna dari indikator asam basa. Titik pada saat dimana indikator berubah warna dinamakan titik akhir ( end point ) dari indikator. Yang diperlukan adalah memadamkan titik akhir indikator dengan titik setara dari penetralan, ini dapat tercapai jika kita dapat menemukan indikator yang perubahan warnanya terjadi dalam selang pH yang meliputi pH sesuai dengan titik setara.










D.    ALAT DAN BAHAN
Alat :

          
    Gelas kimia                     Pipet                           Buret
    
 
    

      
             Gelas erlenmeyer             Corong                      Gelas ukur
Fungsi :
Ø  Gelas kimia berfungsi sebagai wadah.
Ø  Gelas ukur  berfungsi untuk mengukur larutan.
Ø  Corong berfungsi untuk menyaring larutan.
Ø  Buret berfungsi untuk tempat larutan titran.
Ø  Gelas erlenmeyer berfungssi sebagai wadah untuk larutan penitran.
Ø  Pipet berfungsi sebagai alat untuk mengambil indikaator.
Bahan :
1.      NaoH 0,05 M
2.      HCL
3.      Fenoftalien
4.      Tisue / kertas saring



E.     CARA KERJA


± 5 ml NaoH
10 ml HCL
 

                                                
§  Dibersihkan buret.
§  Dibilas dengan NaoH yang akan dipakai sebanyak 3 kali.
§  Dimasukkan larutan NaoH menggunakan corong sampai volumenya melebihi skala nol buret.
§  Diturunkan volume  larutan NaoH pada buret sampai tepat skala nol.

§  Diteteskan larutan NaoH dari buret secara perlahan-lahan tetes demi tetes sampai larutan akan berubah warna.
§  Dicatat keadaan akhir buret.
§  Diulangi percobaan sebanyak 2 kali.
§  Dihitung konsentrasi larutan yang telah dititrasi.
§  Ditentukan konsentrasinya dengan menggunakan pipet gondok.
§  Dimasukkan ke  dalam labu erlenmeyer.
§  Ditambahkan 3 tetes indikator phenoftalien.

 




























F.     HASIL PENGAMATAN

Tabel Hasil Pengamatan Titrasi Asam Basa
Titrasi
V asam
V basa
V rata-rata
I
10 ml
10 ml
9.75 ml
II
10 ml
9.5 ml

G.    PERHITUNGAN
Titirasi I
 V1 . N1 = V2 . N2
10 ml . N1 = 10 ml . 0,05 M
10 ml N1 = 0,5
N1
       = 0,05 M
Titrasi II
V1 . N1 = V2 . N2
10 ml . N1 = 9,5 ml . 0,05M
10 ml N1   = 0,475
N1
      = 0,0475 M



H.    PEMBAHASAN
Dalam percobaan titrasi asam basa yang telah di lakukan, ( Titrasi HCl dengan zat titran NaOH ), didapatkan data sebagai berikut:
 Reaksi:
HCl(aq) + NaOH(aq)               NaCl(aq) + H2O(l)
Dari reaksi di atas dapat diketahui bahwa perbandingan mol antara HCl dan NaOH sama sehingga untuk menghitung konsentrasi dari larutan HCl yang didasarkan atas hasil percobaan, m aka dapat digunakan persamaan berikut ini:
V1 . N1 = V2 . N2
Keterangan:
M1 = Nolaritas asam (HCL)
M2 = Nolaritas basa kuat (NaOH)
V1  = volume larutan asam
V2  = volume larutan basa
Dalam percobaan ke 1, HCl 10 ml dimasukkan ke dalam gelas Erlenmeyer, kemudian  ditambahkan 3 tetes penoftalin. NaOH 0,01 M 50 ml dimasukkan ke dalam buret, kemudian dibiarkan menetes setetes demi setetes hingga indikator berubah warna atau titik akhir titrasi tercapai, yaitu pada saat konsentrasi HCl 0,05 M, dengan PH HCl = 7. Sedangkan dalam percobaan ke- 2 indikator berubah warna atau titik akhir titrasi tercapai pada saat konsentrasi HCl 0,0475 M, dengan PH HCl = 11,75.
Berdasarkan teori, larutan asam bila direaksikan dengan larutan basa akan menghasilkan garam dan air. Sifat asam dan sifat basa akan hilang dengan terbentukanya zat baru yang disebut garam yang memiliki sifat berbeda dengan sifat zat asalnya (dalam percobaan ini adalah NaCl) . Karena hasil reaksinya adalah air yang memiliki sifat netral yang artinya jumlah ion H+ sama dengan jumlah ion OH- maka reaksi itu disebut dengan reaksi netralisasi atau penetralan. Pada reaksi penetralan, jumlah  asam harus ekivalen dengan jumlah basa. Untuk itu perlu ditentukan titik ekivalen reaksi.
Titik ekivalen merupakan keadaan dimana jumlah mol asam tepat habis bereaksi dengan jumlah  mol basa. Untuk menentukan titik ekivalen pada reaksi asam-basa dapat digunakan indikator asam-basa. Ketepatan pemilihan indikator merupakan syarat keberhasilan dalam menentukan titik ekivalen. Pemilihan indikator didasarkan atas pH larutan hasil reaksi atau garam yang terjadi pada saat titik ekivalen. Salah satu kegunaan reaksi netralisasi adalah untuk menentukan konsesntrasi asam atau basa yang tidak diketahui. Penentuan konsentrasi ini dilakukan dengan titrasi asam-basa.
Titrasi merupakan cara penentuan konsentrasi suatu larutan dengan volume tertentu dengan menggunakan larutan yang sudah diketahui konsentrasinya dan mengukur volumenya secara pasti. Bila titrasi menyangkut titrasi asam-basa maka disebut dengan titrasi adisi alkalimetri. Larutan yang telah diketahui konsentrasinya disebut dengan titran. Titran ditambahkan sedikit demi sedikit (dari dalam buret) pada titrat (larutan yang dititrasi) sampai terjadi perubahan warna indikator. Saat terjadi perubahan warna indikator, maka titrasi dihentikan. Saat terjadi perubahan warna indikator dan titrasi diakhiri disebut dengan titik akhir titrasi dan diharapkan titik akhir titrasi sama dengan titik ekivalen. Semakin jauh titik akhir titrasi dengan titik ekivalen maka semakin besar kesalahan titrasi dan oleh karena itu, pemilihan indikator menjadi sangat penting agar warna indikator berubah saat titik ekivalen tercapai. Pada saat tercapai titik ekivalen maka pH-nya 7 (netral). .
Rentang pH yang menimbulkan perubahan besar warna indikator disebut dengan interval transisi. Larutan standar adalah larutan yang disiapkan dengan cara menimbang secara akurat suatu zat  yang memiliki kemurnian tinggi dan melarutkannya dengan sejumlah tertentu pelarut dalam gelas erlenmeyer. Larutan standart yang dipersiapkan dengan cara seperti ini disebut sebagai larutan standart primer. Cara menyiapkan larutan standar dari zat yang tidak bisa dipastikan kemurniannya dapat dilakukan dengan cara :
Contohnya pada NaOH, NaOH tidak bisa dipakai sebagai larutan standart primer disebabkan sifatnya yang higroskopis. Jadi NaOH menyerap uap air dari lingkungan disekitarnya. Jadi NaOH terkontaminasi dengan H2O sehingga apabila kita menimbang 1 gram NaOH dipastikan NaOH yang ada kurang dari 1 gram akibat adanya H2O yang sudah diserapnya. Jika kita menginginkan larutan standart NaOH.
Alternatif  lain adalah dengan membuat larutan NaOH dengan konsentrasi tertentu dan kemudian kita menitrasinya dengan larutan standart primer asam  contohnya adalah dengan memakai larutan HCL ( asam klorida ). Jadi larutan standar yang disiapkan dengan cara demikian disebut sebagai larutan standar  sekunder.



Jawaban Pasca Pratikum
1.      Indikator Bromis  Timol biru dapat digunakan untuk menentukan pH semua jenis larutan. Brom timol biru adalah asam dipotrik lemah dan mengalami perubahan warna dalam dua selang pH salah satu selang pH ialah dari 1,2 ke 2,8 dan perubahan warna dari merah menjadi kuning, selang lain ialah dari pH 8,0 ke 9,6 dengan perubahan warna kuning menjadi biru.
2.      Dik : [ NaOH ] = 0,05 M, V = 15,3 mL , Mr = 40
[ HCl ]  = 0,1 M , V = 10 mL , Mr = 36,5
Dit : a. Normalitas ( N ) ..........?
                    b. Molaritas (M)...............?
                    c. Gr / L...........?
penye : a. N. NaOH =  m.ekivalen
                                 = 0,05 N
               N.HCl       =  m ekivalen
                                 = 0,1 N
b. Gr NaOH = m.V.Mr
                     = 0,05 x 15,3 x 40
                     = 36,5 grm
Gr HCl  = 0,1 x 10 x 36,5
              = 36,5 grm
M NaOH =   =
              = 0,05 M
M HCl =  =  
            = 0,1 M
C. Gr/L NaOH =
                         = 2000 Gr/L
    Gr/L HCl =
                    3650 Grm/L


                             
           









I.       KESIMPULAN
1.      Titrasi merupakan cara penentuan konsentrasi suatu larutan dengan volume tertentu dengan menggunakan larutan yang sudah diketahui konsentrasinya dan mengukur volumenya secara pasti. Bila titrasi menyangkut titrasi asam-basa maka disebut dengan titrasi adisi-alkalimetri. Larutan yang telah diketahui konsentrasinya disebut dengan titran.
2.      Jika asam ditetesi basa, maka PH larutan naik, sebaliknya jika larutan basa ditetesi asam maka PH larutan akan turun.
3.      Larutan standar adalah larutan yang disiapkan dengan cara menimbang secara akurat suatu zat yang memiliki kemurnian tinggi dan melarutkannya dengan sejumlah tertentu pelarut dalam labu ukur. Larutan standar yang dipersiapkan dengan cara seperti ini disebut sebagai larutan standart  primer, sedangkan larutan standar yang kemolarannya ditetapkan dengan larutan standar primer  disebut sebagai larutan standar sekunder. Sebelum digunakan dalam percobaan, buret harus dibilas dengan larutan yang akan dimasukkan agar tidak terdapat cairan/ zat-zat lain yang masih tersisa di dalam buret, sehingga buret bersifat netral.
4.      Titik ekivalen merupakan keadaan dimana jumlah mol asam tepat habis bereaksi dengan jumlah mol basa.
5.      Titik akhir titrasi adalah titik dalam titrasi yang ditandai dengan perubahan warna indikator.
6.      Perubahan PH dalam titrasi asam basa disebut kurva titrasi.

J.      KEMUNGKINAN KESALAHAN
Kemungkinan kesalahan yang terjadi :
1.      Kurang telitinya dalam melakukan proses titrasi.
2.      Kurangnya ketelitian dalam memperhatikan perubahan warna indikator.







DAFTAR PUSTAKA

Brady, J. E & Holum J.L 1988. Fundamental of Chemistry, 3 Ed. New York : John Wiley & Inc.
Brady, J.E & Humiston, G.E. 1780. Gemeral Chemistry, 2 Ed. New York : Jhon Wiley & Sons Inc.
Keenam, et al.1984. Kimia Untuk Universitas 1. Edisi keenam. ( alih bahasa A. Hadyana pudjaatmaka). Jakarta : Erlangga.
Harry Firman.1990. Kimia Dasar II. Bandung : IKIP Bandung












Tidak ada komentar:

Poskan Komentar